0813 8365 0665
0813 8365 0665
7D366BC3
0813 8365 0665
pcs

Sejarah Batik Solo

13th April 2017

Sejarah batik Solo tidak terlepas dari pengaruh Keraton. Batik Solo bermula pada masa Kerajaan Pajang lebih dari 4 abad yang lalu. Seperti diketahui, kerajaan yang merupakan kelanjutan dari dinasti Demak tersebut memindahkan pemerintahannya dari Demak Bintoro ke Pajang.

Peran Dinasti Pajang
Seperti ditulis di kampoenglaweyan.com, Kyai Ageng Henis adalah tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik di desa Laweyan yang saat itu masuk ke wilayah kerajaan Pajang. Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo yang juga keturunan Brawijaya V. Beliau bermukim di desa Laweyan sejak tahun 1546 M.

Ki Ageng Henis yang dikenal dengan Ki Ageng Laweyan merupakan “manggala pinatuwaning nagari” semasa Jaka Tingkir masih menjadi Adipati Pajang. Beliau adalah kakek dari Danang Sutawijaya yang menjadi pendiri kerajaan Mataram .

sejarah batik soloDesa Laweyan yang terletak di tepi Sungai Laweyan ini, dulunya adalah pusat perdagangan Lawe (bahan baku tenun). Bahan baku kapas dipasok dari daerah Juwiring, Pedan dan Gawok. Proses distribusi barang di Pasar Lawe dilakukan melalui bandar Kabanaran yang tak jauh dari Pasar Lawe. Dulu terdapat banyak Bandar di tepi sungai, seperti Bandar Kabanaran, dan Bandar Laweyan. Melalui Bandar inilah yang menghubungkan Desa Laweyan menuju Sungai Bengawan Solo. Dari sinilah, batik terhubung dengan daerah pesisir.

Batik Solo Era Keraton Surakarta
Berdirinya Keraton Surakarta tahun 1745 turut mewarnai perkembangan Batik Surakarta. Berawal dari perpecahan Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Giyanti tahun 1755. Seluruh busana kebesaran Mataram dibawa ke Keraton Yogyakarta. Sementara itu, PB III memerintahkan kepada para abdi dalem untuk membuat sendiri motif batik Gagrak Surakarta.

Dari perintah itu masyarakat berlomba-lomba untuk membuat corak batik. Muncul banyak motif batik yang berkembang di masyarakat. PB III pun mengeluarkan peraturan tentang kain batik yang boleh dipakai di dalam keraton. Ada beberapa motif tertentu yang diizinkan untuk dipakai di lingkungan keraton.
“Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu laranganingsun, bathik sawat, bathik parang lan bathik cemukiran kang calacap modang, bangun tulak, lenga teleng lan tumpal, apa dene bathik cemukiran kang calacap lung-lungan, kang sun wenangake anganggoa pepatihingsun lan sentananingsun dene kawulaningsun pada wedhia.”
Adapun jenis kain batik yang saya larang, batik sawat, batik parang dan batik cemukiran yang berujung seperti paruh burung podang, bagun tulak, minyak teleng serta berujud tumpal dan juga batik cemukiran yang berujung lung (daun tumbuhan yang menjalar di tanah), yang saya izinkan memakainya adalah patih dan para kerabat saya. Sedangkan para kawula (rakyat) tidak diperkenankan.
Para abdi dalem bertugas untuk merancang batik yang diperuntukkan bagi kepentingan keraton. Mereka banyak yang tinggal di luar keraton, sehingga terbentuklah komunitas perajin batik seperti di Kratonan, Kusumodiningratan, Kauman maupun Pasar Kliwon. Bahan yang digunakan serta pewarnaan masih tetap memakai bahan lokal seperti soga Jawa.

Batik Solo Awal Abad XX
Pada awal abad XX, batik menjadi salah satu identitas perekonomian masyarakat Jawa. Pada masa ini, batik telah memasuki era industrialisasi dan terbentuknya kelompok-kelompok para pedagang. Salah satu organisasi yang terkenal adalah Sarekat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhudi. Beliau memiliki jaringan dagang yang kuat hingga ke Kudus, Surabaya, Gresik, Tuban, Cirebon, Bogor hingga ke Batavia dan luar Jawa. Salah satu distributornya adalah HOS Cokroaminoto yang menjadi tokoh dalam organisasi Sarekat Dagang Islam.

Berdirinya SDI dilatarbelakangi persaingan dagang antara orang-orang Cina dan Belanda. Organisasi ini menunjukkan eksistensi masyarakat pribumi Jawa Islam di tengah kekuasaan colonial Belanda. Sekaligus mempertahankan eksistensi batik yang menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat Jawa. Pada akhirnya SDI menjadi salah satu organisasi perintis kemerdekaan Indonesia.
Hingga sekarang Batik Laweyan Solo tetap ada. Para pengusaha Laweyan pernah mencapai kejayaan pada era 1970-an.
Kini, Pemerintah Surakarta dua kampung batik di kota Solo, yakni kampong batik Laweyan dan kampung batik Kauman, yang terletak di belakang Masjid Agung Surakarta. Salah satu pusat perdagangan batik yang terkenal adalah Pasar Klewer.

Artikel ini diambil dari :batik.or.id

habis
Rp 225.000300.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBTA 0048
Nama BarangBatik Tulis Coklat Merah BTA 0048
Harga Rp 225.000 300.000
Lihat Detail »
habis
Rp 720.000900.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBTL41
Nama BarangBatik Tulis Lasem Primis BTL41
Harga Rp 720.000 900.000
Lihat Detail »
habis
Rp 200.000250.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBTL70
Nama BarangBatik Tulis Lasem Sekar Jagad BTL70
Harga Rp 200.000 250.000
Lihat Detail »
habis
Rp 150.000200.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBTA 0042
Nama BarangBatik Lasem Coklat BTA 0042
Harga Rp 150.000 200.000
Lihat Detail »
habis
Rp 250.000315.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBTLS 019
Nama BarangBatik Tulis lasem merah Hijau BTLS 019
Harga Rp 250.000 315.000
Lihat Detail »
Rp 150.000200.000
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBatik Lasem BPS73
Nama BarangBatik Lasem BPS73
Harga Rp 150.000 200.000
Lihat Detail »
Rp 650.000
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangJual Batik Lasem Online
Harga Rp 650.000
Lihat Detail »
habis
Rp 240.000300.000
habis
Order Sekarang » SMS : 0813 8365 0665
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kodebtl09
Nama BarangBatik Tulis Lasem Gunung Ringgit BTL09
Harga Rp 240.000 300.000
Lihat Detail »
Keranjang>>